Featured Post

Recommended

Jalur Purba Sumatera, ALS 106

Berbeda dengan catatan perjalanan yang lain, ini adalah repro pertama dari bentuk video yang saya terjemahkan kedalam tulisan, biasanya dulu...

Jalur Purba Sumatera, ALS 106

Jalur Purba Sumatera, ALS 106

Berbeda dengan catatan perjalanan yang lain, ini adalah repro pertama dari bentuk video yang saya terjemahkan kedalam tulisan, biasanya dulu terbalik.. tulisan baru ke bentuk yang lain.


Tanpa terasa umur cerita ini sudah lebih dari 5 tahun, tapi rasanya seperti baru sekian bulan berlalu, lewat membuka-buka kembali folder perjalanan yang selalu saya simpan arsip dokumennya baik dalam bentuk file foto atau potongan video, terbukalah kembali cerita yang baru kemarin saya upload ulang videonya.


Sekitar bulan Maret tahun 2016 saya membuat rencana jalan yang cukup dadakan, ini berangkat dari rasa penasaran yang menumpuk akibat ingin membuktikan ke diri sendiri apakah bisa bermodal budget 1 juta rupiah melakukan trip ke beberapa kota di Sumatera dengan menggunakan jasa angkutan darat.


Ditambah pada masa tersebut banyak perusahaan memasang armada baru dengan tarif yang cukup terjangkau untuk mengisi trayek-trayek yang belum pernah saya jajal sebelumnya, singkat cerita skema perjalanan diatur sedemikian rupa mulai dari persiapan keberangkatan, hari berangkat, berapa lama dijalan dan kapan harus pulang agar tidak mengganggu pekerjaan.


Saya kontak teman-teman yang stay di Padang dan Bukit Tinggi, awalnya perjalanan ini saya rencanakan menuju kota Padang terlebih dahulu tapi setelah mereka mengatakan jika incaran saya si Jetbus Setra yang masih anyar pada masa itu ternyata ditugaskan khusus untuk Bukit Tinggi, akhirnya dibelokkan lah skenario tadi.


Masa itu kepengen sekali mencoba ALS pemberangkatan Sumatera Barat menuju Medan, bukan tanpa alasan karena pada rute inilah perusahaan angkutan darat dengan jarak tempuh terjauh di Indonesia tersebut memasang armada-armada terbaiknya. 


Padang dan Bukit Tinggi selalu mendapatkan bus generasi baru, periode 2016 yang jadi bintang adalah Ecoline 1526 kelas Super Eksekutif, All New Legacy 1836 Eksekutif dan si Jetbus Setra 1526 AC Ekonomi, dari ketiga diatas 2 kandidat incaran adalah Jetbus dan Ecoline, untungnya jelang keberangkatan saya tahu jika kelas Super Eksekutif menggunakan partisi depan dan lagi tidak full lewat Lintas Tengah karena akan berbelok ke arah Gunung Tua yang artinya tidak lewat Danau Toba, akhirnya pemberangkatan dari Bukit Tinggi jadi pilihan terbaik. 


Saya berangkat ke Bukit Tinggi hari Jumat jelang sore dengan bus Jambi Transport, hari itu All New Legacy MB Intercooler yang jalan, sebelum berangkat sempat foto-foto dulu dengan salah satu unitnya, kebetulan livery ini saya yang desain dan diaplikasikan pemilik ke armadanya dengan beberapa perubahan, untuk penilaian pribadi.. coraknya jadi terlalu ramai.





Singkat cerita setelah lebih dari 12 jam perjalanan saya turun di terminal Padang Panjang, bus Jambi Transport melanjutkan perjalanannya ke Bukit Tinggi yang masih menyisakan sekian puluh kilometer lagi, suasana setengah 5 pagi diterminal Bukit Surungan benar-benar tidak ada aktivitas, yang saya ingat digerbang masuk ada petugas berjaga, sayangnya saya turun didalam terminal.. mau tidak mau jalan lagi ke sana.


Alasan saya ke Padang Panjang adalah karena orang yang mengurusi reservasi tiket serta mobilisasi saya selama di Sumatera Barat berdomisili disana waktu itu, seorang kawan sehobi yang umurnya lebih muda namun track record perjalanannya cukup panjang.. Boy.


Aplikasi pemesanan tiket online belum seperti sekarang, bahkan bisa dikatakan tidak ada perusahaan angkutan di Sumatera yang menggunakan layanan tersebut kala itu, jadi untuk urusan pesan bangku, pembayaran dan sebagainya kita harus tatap muka langsung, beruntung semua selesai di Boy.


Ada hal-hal yang tidak bisa digantikan oleh aplikasi yang menawarkan segala macam kepraktisannya, salah satunya interaksi yang terjalin antara orang-orang sehobi, dahulu jika memutuskan untuk menjadi seorang pejalan wajib yang namanya punya kenalan dikota tujuan, semua betul-betul dijembatani karena kesamaan hobi, meski tidak pernah bertemu muka namun aktif berkomunikasi, entah itu dari sosial media, forum dan telekomunikasi.


Bisa dipastikan juga hampir semua yang suka onboard dengan bus adalah Bismania, mau dari komunitas manapun.. dot org, dot com atau komunitas salam satu jiwa, yang jelas embel-embel Bismania pasti melekat, jadi kita sudah kenal duluan bahkan sebelum bertatap muka misal si A dari kota mana atau bahkan terkadang informasi posisi teman-teman lain yang sedang jalan pun kita update, ini juga berlaku untuk perjalanan ALS 106.


Jelang turun dari JATRA kami sudah berkomunikasi, ternyata gerbang yang dimaksud adalah pintu masuk tadi, saya kira pintu keluar disisi yang lain hehehe, setelah ngobrol singkat motor yang dikemudikan Boy langsung mengarah ke pusat kota, pagi itu Padang Panjang diselimuti kabut, satu pemandangan yang biasa katanya mengingat wilayah ini memang didaerah pegunungan.


Setelah istirahat dan beres-beres karena siangnya sudah harus di Bukit Tinggi, sekitar jam 9 pagi kami jalan lagi dan sempat mampir sebentar ke tempat makan legendaris yang sudah tersohor di Republik ini, tak terhitung sudah berapa banyak orang-orang penting baik dari pemerintahan, korporat dan sektor lainnya dari dalam dan luar negeri mengecapi cita rasa sate yang sudah menjadi ikon dari kota Padang Panjang dan Sumatera Barat pada umumnya.


Puas dan kenyang dengan hidangan sate Mak Sukur, Boy langsung mengantar saya ke Bukit Tinggi.. naik motor, asli naik motor.. padahal jarak kesana lumayan, kalau saya ingat hitungan kasarnya lebih dari setengah jam kami berkendara.


Pemandangan alam khas Sumatera Barat menyuguhkan sisi terbaiknya disepanjang jalan, meski mendung menyelimuti perjalanan beruntung tidak sampai turun hujan, kami cerita ringan tentang apa saja dan dan dalam perjalanan ini sempat berpapasan dengan Lorena tujuan Bandung yang bertolak dari kota Bukit Tinggi, cerita yang kini tinggal kenangan sekarang.


Sampai di Bukit Tinggi tidak lengkap rasanya jika tidak mampir ke jam gadang, dijalan pun Boy menawari untuk kesana, karena waktu masih berjarak tidak ada salahnya singgah sejenak ke tugu jam yang sudah menjadi maskot kota Bukit Tinggi tersebut.


Waktu keberangkatan semakin dekat dan kami makan siang disekitaran perwakilan ALS, bus  yang akan membawa saya sudah terparkir menghadap jalan, setelah beres langsung menuju kantor ALS untuk lapor tiket, bus berbodi Jetbus 2 HD garapan Karoseri Adi Putro Malang tampak berdiri sendirian, aktivitas loading barang penumpang pada bagasi samping menjadi pusat keramaian, saya dan Boy mengitari unit yang masih cukup gress tersebut, umurnya baru hitungan bulan saat itu.  





Sekian menit berjalan akhirnya saya dan Boy harus berpisah juga, Mercedes-Benz OH1526 NG sudah bersiap berangkat menuju Medan, penumpang yang dibawa tidak sampai setengah jumlah bangkunya, tiketnya cukup terjangkau untuk kelas Sumatera.. tidak sampai 200 ribu.


Legroom cukup rapat akibat jumlah bangku yang lebih banyak dari kelas Eksekutif, wajar namanya juga kelas AC Ekonomi, bus ini juga tanpa toilet, jadi kalau ingin berhajat harus menepi atau menunggu waktu istirahat.


Boy berlalu untuk kembali ke Padang Panjang seiring dengan bergeraknya ALS bernomor pintu 106 yang perlahan meninggalkan perwakilan Bukit Tinggi, saya taksir sekilas umur pengemudinya 40 tahunan, karena ini kali pertama naik ALS pemberangkatan Sumatera Barat saya tidak begitu paham jumlah krunya berapa, tapi yang jelas ada 2 orang lagi didepan dan salah satu dari mereka adalah kernet yang langsung duduk dipintu kiri depan.


Lokasi kantor ALS Bukit Tinggi berada di jalan raya Bukit Tinggi - Batu Sangkar, bus tujuan Pekanbaru dan Medan via Kelok 9 melintas disini, tapi beda cerita dengan ALS 106 yang akan menyusuri jalur purba Sumatera untuk menuju Medan, belum jauh berjalan tiba diperempatan lampu merah untuk ambil kanan bergabung dengan lalu lintas Jl. By. Pass.


Sambil berjalan mulai kelihatan lapak-lapak dan toko manisan yang menjual keripik sanjai serta makanan khas oleh-oleh Sumatera Barat, karena berlokasi disepanjang jalan lintas, banyak bus-bus pariwisata mampir membawa rombongan, lokasi disekitar resort diatas kanan jalan menjadi pembuka lintasan berkelok yang seakan tiada habisnya sampai ke Sumatera Utara, disini kamera mulai menyala untuk merekam video, disatu titik 106 sempat menepi sejenak setelah menerima telepon dari kantor ada penumpang tambahan yang akan diantar ke lokasi.


Tebing dan jurang seperti bergandengan tangan disini, dimensi badan jalan yang cukup pas-pasan untuk kelas Jalan Nasional seperti mengular menyusuri tebing-tebing curam, sesekali juga saya dapat menyaksikan jurang dikiri jalan yang tidak ditutupi pohon atau belukar, tak perlu diukur berapa kedalamannya.. yang jelas membuat kuduk merinding.


Dari gerakan-gerakan memutar kemudi bisa dipastikan yang berada dibalik kemudi adalah senior atau batangan di ALS 106 ini, jarum RPM dari mesin OM906LA tidak pernah dibiarkan jatuh ke kiri meski dalam posisi menikung, ornamen-ornamen yang ditempel pada kaca depan bermain memenuhi momen inersia karena mendapat dorongan dari samping kiri dan kanan, bahasa sederhananya masuk tikungan dengan kecepatan tinggi.



Lintasan bertabur blindspot jadi tantangan tersendiri, tak jarang kendaraan dari arah lawan terutama mobil pribadi colongan masuk ke area ruang jalan Jetbus Setra ketika berada ditikungan, cukup membahayakan dan untungnya tidak sampai terjadi senggolan.


Entah berapa ratus kelokan mulai dari Palupuh sampai ke Bonjol, hamparan sawah dan bukit barisan ikut memanjakan mata disudut lain, saya puas sekali dengan ini karena sudah sangat jarang sekali menemukan hal yang demikian, setelah hampir 3 jam perjalanan beberapa penumpang dibelakang ada yang mabuk darat karena mungkin tidak tahan dengan tikungan-tikungan disini.


ALS 106 mengambil arah kanan ketika tiba di simpang tiga SPBU Lubuk Sikaping, saya fokuskan pandangan ke bukit barisan dikanan jalan.. benar-benar menjulang tinggi sekali dengan hutan lebat diatasnya, kami melintasi ibu Kota Kabupaten Pasaman, wilayah terujung Sumatera Barat jelang berbatasan dengan Sumatera Utara.



Dengan latar sungai khas pegunungan dikanan jalan dan longsoran-longsoran dari tebing yang menutupi badan aspal, dihadapan rumah-rumah penduduk yang menjadikan Lintas Sumatera sebagai halamannya, dua armada dari perusahaan angkutan antar kota yang pernah memiliki tagline Pos Negara ini konvoi pada jalur sempit, ALS 381 dari Jawa mulai dibayang-bayangi oleh adiknya.. 106.


Debu jalanan tampak membungkus bodinya seakan menjadi peluh yang sudah berhari-hari harus ditanggung dalam menunaikan tugasnya menuju kota Medan, saya tidak tahu pemberangkatan dari mana tapi identitas khas armada dari Jawa Tengah terasa jelas.


Mercedes-Benz yang entah OH berapa didepan.. antara king/cooler, menuntun sambil memberikan isyarat lampu ketika keduanya bermanuver disuasana jelang sore, sampai akhirnya tiba juga momen ALS 106 melewati 381 pada titik tikungan ganda yang sebenarnya cukup krusial untuk dilakukan overtake.




Setelah melewati tugu batas provinsi Sumatera Barat dan Sumatera Utara, sekitar jam setengah 6 sore armada kelir hijau turun minum pada sebuah rumah makan didaerah Kotanopan Kab. Mandailing Natal, timing masuknya bersamaan dengan ALS dari arah Medan yang hendak ke Jawa, cukup lama kami istirahat karena ternyata rata-rata kru 106 berasal dari kampung ini, beberapa dari mereka pulang ke rumah.


Kurang dari jam 7 malam bus yang tugasnya putar kepala ini angkat jangkar juga, pengemudi berganti orang dan saya cukup kaget sejak bersiap keluar dari rumah makan, terlihat usianya masih sangat muda sekali.. mungkin diawal 20 tahunan, mengemudikan bus bukanlah perkara mudah ditambah suasana malam hari dengan lintasan berbahaya, sudah barang tentu harus wajib memiliki skill dan mampu mengatur emosi saat berada dilapangan.




Karena masa itu belum tren tiap kursi tersedia port usb untuk charger, dengan daya kamera yang sudah sangat terbatas saya benar-benar memilih kapan kamera harus digunakan, sepanjang jalan mulai dari Kotanopan sampai ke Padang Sidempuan saya lebih banyak menikmati perjalanan ini sendiri... karena semestinya memang begitu hehehe.


Padang Sidempuan diraih belum terlalu malam, pusat kotanya masih sangat ramai dikisaran jam 10 malam, beberapa penumpang turun dan ALS langsung mengambil arah ke Sipirok, mungkin karena sudah terlalu lelah seharian keluar mulai dari Padang Panjang, saya sempat terlelap diatas bangku Hai tanpa legrest.


Badan bus berhenti bergoyang, disini saya terbangun dan menyadari bahwa bus dalam posisi berhenti untuk berbagi jalan dengan kendaraan dari arah lawan, ternyata 106 sudah tiba di Batu Jomba.. jalur sesar aktif pulau Sumatera yang tanahnya akan terus bergerak sampai akhir zaman mungkin, saat itu sepertinya baru saja dilakukan perkerasan material pada medan jalan yang cukup ekstrim tersebut, jika melihat langsung dari video akan tergambar suasananya seperti apa.


Warga sekitar membuat pos dan mengatur kendaraan yang lewat disana, kondisi jalan bergelombang naik turun memaksa ALS 106 berjalan zig-zag pada lintasan full tanah tersebut, kerusakan ini memang tidak terlalu panjang.. namun dikiri jalan adalah jurang dengan kontur tanah labil, tentunya cukup beresiko saat dilewati kendaraan berat.


Lewat tengah malam dan sudah dihari berikutnya, belum jauh dari Batu Jomba kami sempat menepi, kesempatan ini saya manfaatkan sebaik-baiknya mencari toilet.. toilet terbang hehehe.


Tiba di Tarutung beberapa paket turun diperwakilan, penumpang diminta kru jangan turun karena tidak lama disini, mengamati sekitar saya tergiur dengan satu dagangan yang dipajang disebuah warung 24 jam, Kacang SIHOBUK, makanan khas dari kota dingin Tarutung.. begitu tagline-nya, dimana cara memasak kacang kulit tersebut dengan teknik sangrai menggunakan pasir.. rasanya untuk saya khas sekali dan seorang ibu-ibu dari lini belakang berhasil membelinya sementara saya kepayahan mencari dimana posisi rupiah diselipkan hingga akhirnya... batal belanja.


Sampai di persimpangan Siborong-borong saya tidak sempat nyanyi karena pada masa itu memang belum terdengar gaung lagu yang dimaksud, ALS ambil kanan untuk menuju kota selanjutnya, jika ke kiri kita akan ke Dolok Sanggul. 


Sekitar jam 3 pagi Mercedes-Benz OH1526Ng isi solar di SPBU, badan terasa beku sampai ke tulang karena sepanjang jalan dihembus oleh AC Denso, saya coba turun untuk sekedar menghangatkan badan dan ternyata saya salah besar... udara jelang subuh di Balige mengalahkan suhu didalam bus.  



Saya terbangun dari tidur ayam setelah 1 penumpang akan turun dimuka SPBU setelah terminal Parapat, sebelum turun dia sempat bertanya ke kru jam berapa kapal paling pagi berangkat, dari percakapan itu bisa saya simpulkan bapak ini yang akan menuju pulau Samosir.


ALS 106 menyusuri sabuk jalan berkelok yang mengitari danau toba, meski samar tampak cahaya penerangan dari rumah-rumah memantul diatas airnya, suasana sekitar tampak temaram dibungkus dengan hutan-hutan khas dataran tinggi.


Sejak berangkat dari Bukit Tinggi kru sudah tahu tujuan saya tidak ke Medan, saya juga titip pesan untuk diturunkan disebuah lokasi disekitar Siantar, tapi karena mereka melihat saya tidur akhirnya saya dibangunkan saat ALS 106 merapat diperwakilan Pematang Siantar sekitar jam 5 pagi.


Perjalanan bersama Jetbus Setra berakhir disini dan kami berpisah untuk selanjutnya  berpetualang menuju Pekanbaru bersama pemain bintang dari Siantar pada malam harinya.


Satu perjalanan yang berkesan bisa menyusuri jalur purba bersama sesepuh dari Sumatera.

A.N.S bukan hanya Morodadi

A.N.S bukan hanya Morodadi

Magnet bus baru ternyata masih sama sampai hari ini, meski tahun sudah berganti dan wajah-wajah baru bermunculan ternyata hal ini punya daya tarik tersendiri dan kekuatannya malah cenderung lebih besar karena campur tangan teknologi informasi, sebenarnya banyak alasan yang menjadikan hal tersebut cukup spesial mulai dari yang penasaran ingin melihat bahkan sampai dengan mencoba atau sekedar cuci mata sesaat dan tidak ingin ketinggalan dengan euphoria tersebut.


Saya yang sudah lama absen dengan hal-hal demikian, jika ditanya apakah masih mengikuti perkembangan? bisa dibilang sudah bertahun dan sekian kali rilisnya bus Sumatera terbaru lepas dari pengamatan, hanya sekelebat kabar yang didapat itupun jika tidak sengaja atau dari teman-teman yang kebetulan membahasnya semisal kopi darat, tapi untuk yang satu ini beda.. setelah menyaksikan bagaimana wujudnya dari tangkapan lensa, puasa panjang saya seperti menanti waktu berbuka setelah melihat tampilan bodi dengan kemasan berbeda dan seperti memutar waktu kembali ke era model bus yang semestinya.


Hal lumrah jika selera tiap orang berbeda, bahkan jika dijabarkan secara spesifik-pun meski dengan objek yang sama tetap tidak akan pernah serupa secara detail apa yang mendasari rasa suka tersebut, belakangan konstruksi bodi bus mengalami perubahan yang sangat signifikan dan ini dilakukan tidak hanya oleh satu pembuat konstruksi bodi kendaraan panjang tersebut, tetapi seluruh karoseri besar di Indonesia seperti kompak menganut aliran ini.


Yang paling mencolok adalah penggunaan kaca depan bertingkat dengan bagian tengah diberi rangka pemisah, lewat pengetahuan saya yang pendek ini jika bicara spek teknis hal yang demikian memang lebih kokoh dibanding bila menggunakan satu lembar kaca secara penuh, tapi tentu saja ada yang harus dikorbankan.. Visibilitas atau ruang pandang khususnya bagi pengemudi.


Bodi dengan konsep Super High Deck memang pas jika menggunakan model kaca depan terpisah karena dari hitungan tingginya masuk, tapi akan beda cerita dengan High Deck atau bahkan bodi-bodi lama yang "dipaksa" mengikuti tren masa kini oleh pemilik agar tidak ketinggalan zaman atau mungkin supaya lebih sedap dipandang dalam versi yang punya.


Seperti yang saya katakan diatas tadi, konsep 2 kaca depan bertingkat memang oke tapi wajib juga melihat aspek-aspek lainnya, karena dilapangan bisa kita lihat bersama tinggi dashboard tetap mengikuti ukuran ketika diaplikasikan pada kaca tunggal, hal ini sudah pasti nyaris mengambil ruang seperempat dari bidang kaca yang digunakan kru untuk melihat kedepan, sementara tulangan pemisah antara kaca atas dan bawah sudah hampir sejajar dengan kepala.


Tanpa berpanjang lebar lagi, ketertarikan saya pada bodi rilisan terbaru dari Morodadi ini karena mengusung kembali konsep kaca depan tunggal setelah tahun 2015 industri karoseri tanah air fokus ke genre kaca depan bertingat, tidak sampai hanya kembali dengan kaca tunggal saja, karoseri Morodadi mengaplikasikannya pada bodi tinggi dan membuat ruang pandang kedepan baik dari posisi pengemudi dan penumpang benar-benar lega, sebenarnya hal ini sudah pernah dilakukan oleh karoseri lain tapi untuk selera pribadi besutan Morodadi yang paling pas racikannya.


Berangkat dari sini akhirnya saya mencoba mencari tahu tentang informasi bodi yang diberi nama New Patriot tersebut, satu nama tenar pada masanya yang kembali digunakan Morodadi.. dimulai dari nama Patriot sampai dengan New Patriot era 90-an, dimasa itu bodi ini hadir dibanyak perusahaan otobis pulau Jawa dan tentu saja Sumatera juga tak mau ketinggalan, bisa jadi ini adalah alasan Morodadi kembali dengan nama tersebut,  mengembalikan nama New Patriot ke masa keemasannya.


Sepertinya cukup untuk pembahasan konsep bodi dan karoseri yang mengusungnya, sekarang giliran perusahaannya yang akan diulas bermodalkan informasi yang saya tahu dan yang didapat secara tidak langsung dari kawan-kawan sehobi baik dari sosial media, forum, milis dan sebagainya. 


PT. Anas Nasional Sejahtera atau lebih akrab dengan nama A.N.S adalah salah satu mitra Morodadi yang loyal bekerjasama dengan karoseri tersebut, perusahaan asal Sumatera Barat ini sudah melayani penumpang angkutan darat Antar Kota Antar Provinsi sejak puluhan tahun lalu, nama Morodadi tak pernah absen dari jajaran armadanya dan berikut adalah dokumentasi yang pernah saya ambil disambung dengan koleksi dari sosok hebat yang membawa kita melanglang buana ke masa lalu.




Dimulai dari foto-foto yang saya ambil tahun 2009 ketika arus mudik dengan lokasi disebuah parkiran rumah makan di Jalan Lintas Timur Sumatera yang menghubungkan Jambi dan Palembang, saat itu kelas Super Eksekutif masih dibuka ANS untuk jalur Padang - Jakarta - Bandung p/p, barisan armada-armada ini sekarang tinggal cerita karena sudah regenerasi dengan unit-unit baru.


Dan berikut adalah koleksi foto yang pernah didokumentasikan oleh seorang Bismania sejati semasa hidupnya, abang kita Alm. Machrizal Masri salah satu putra Sumatera Barat yang besar di Ibu Kota, tanpa perlu caption sekalipun koleksi foto-foto beliau ini seperti bisa bercerita.


















Apa yang pernah saya lihat pada liputan arus mudik TVRI diperkuat dengan informasi penting dari Uda Mack. Jika dalam perjalanannya A.N.S pernah menggunakan bodi selain buatan karoseri Morodadi Prima yang berbasis di Malang Jawa Timur. Ada dua nama karoseri lain yang sempat dikelir dan diberi nama A.N.S pada bodinya. Starliner dari karoseri GMM dan untuk kelas Non-AC pernah juga diisi oleh Setra buatan karoseri KSP Bogor. 




Lewat obrolan dan dokumentasi beliau akhirnya saya punya bahan untuk menggambar digital bagaimana kira-kira bentuk samping dari bus tesebut.


Starliner GMM

Dokumentasi lain terkait Starliner garapan karoseri GMM (German Motors Manufacturing) diperkuat dengan foto dengan kualitas sangat baik kepunyaan mas Hiyus Kudungga yang entah diambil tahun berapa, tapi yang pasti garis-garis bus ini tampak jelas dengan papan trayek saat itu menuju kota di timur Jawa.



Masa-masa tersebut sudah puluhan tahun berlalu, rute yang pernah dijajal A.N.S mulai dari Aceh hingga ke Denpasar saat ini telah libur panjang, sekarang perusahaan fokus pada penumpang Sumatera Barat yang akan bepergian ke Jabodetabek dan Bandung atau sebaliknya.


Meski sudah banyak perubahan yang terjadi, cerita-cerita tadi akan menjadi salah satu bagian dari perjalanan panjang PT. Anas Nasional Sejahtera yang sudah puluhan tahun beradaptasi dengan dinamika dunia transportasi darat pada khususnya.

Semakin praktis.. semakin malas..

Semakin praktis.. semakin malas..

Apa rerata sifat manusia memang demikian atau hanya saya yang mengalami?


Tanpa terasa web ini online hampir 2 tahun, domainnya selalu diperpanjang sebelum jatuh tempo, tapi anehnya setahun belakangan sama sekali tidak ada aktivitas yang dilakukan disini, bahkan sekedar mengganti script untuk update video terbaru di youtube pun tidak dilakukan.. Kenapa begitu?


Mungkin.. Bisa jadi saya terlalu asyik dengan "mainan" disebelah yang bisa dibilang jauh lebih praktis.. tinggal ketik pada kolom pencarian lalu semua video yang kita cari atau nyambung dengan kata kunci akan bermunculan bahkan sampai dengan topik-topik yang tidak relevan pun tetap masuk dalam algoritma pencariannya.


Entah juga apakah perkembangan dunia digital memang sudah semestinya seperti ini, atau malah arus teknologi informasi saat ini kebablasan dan secara tidak langsung mengubah habit tiap orang dalam mencari dan menyajikan informasi terutama bagi generasi milenial, pembahasannya berat ini.. anggap saja truk intercooler yang sedang sarat muatan.


Masih ingat sekali bagaimana sekitar 5 - 10 tahun lalu menggali informasi bukanlah hal yang mudah akibat keterbatasan sumber dan akses informasi digital, meski begitu orang-orang tidak patah arang untuk mencari informasi terbaru dan hebatnya hasil yang didapat cukup berbobot, sekarang semua jadi lebih mudah tapi semakin ada tantangan tersendiri juga karena untuk mendapatkan informasi yang sahih wajib melakukan validasi ulang apakah sebuah berita benar adanya akibat menjamurnya berita-berita sampah.


Kalimat "perkembangan informasi secara digital" saat ini tanpa disadari sering menjadi pembenaran oleh mereka yang mencari informasi hanya bermodal search engine, hasil apapun dianggap valid tanpa perlu diverifikasi, padahal jika mau buka-bukaan banyak pakar study saat ini yang menyatakan bahwa salah satu ciri informasi berharga dan otentik adalah informasi yang didapat langsung dari sumber, yang tidak ada dimesin pencari dan tidak bersifat artificial.


Apakah kedepan "kendaraan" khusus corat coret ini (baca:website) masih memiliki ruang seperti dulu didunia yang telah membesarkan namanya walaupun saat ini secara tidak langsung trend teknologi menggerus kejayaannya, dengan perkembangan platform digital saat ini saya cukup khawatir dengan nasib website kedepan karena secara personal ada hal-hal yang tidak bisa ditemukan pada plaform lain.


Saya sangat menikmati bagaimana proses menulis itu terjadi, proses dimana imajinasi dituangkan kedalam kata-kata yang membentuk kalimat dan akan dibaca kembali untuk diterjemahkan ulang oleh siapapun dengan kerangka berpikir masing-masing, jikalau website tidak ada lagi atau ditinggalkan karena dianggap kuno.. saya takutnya untuk melampiaskan itu orang-orang akan menulis caption panjang di instagram sebagai pengganti media yang hilang. 


Tulisan dengan judul  "Makin praktis.. makin malas.." adalah pandangan pribadi selama berpindah-pindah "kendaraan" untuk terus membagikan cerita digital seputar kendaraan panjang dan mungkin juga ini bisa menjadi pengingat bahwasanya perkembangan teknologi informasi tak ubahnya pisau bermata dua, jika mau terus.. ikuti.. namun jangan sampai terlena karena tidak ada yang tahu apa yang akan ada didepan.. play safe.


Ngomong-ngomong sebenarnya saya ini nulis apa??.. Model begini jadi pembuka 2021? ah tak apalah, minimal bisa latihan nulis lagi.


Credit photo : Michael Cox

Terbang diantara COVID-19..

Terbang diantara COVID-19..

Lama tidak nulis malah muncul dengan topik yang melanting jauh, mungkin biar sekalian senada dengan materi video terbaru di youtube yang juga sama-sama tidak nyambung... tidak ada kait berkaitnya dengan aktivitas yang sering dilakukan bila ada waktu luang.

Efek domino dari pandemi covid-19 luar biasa pengaruhnya ke berbagai sektor, saya yakin kita semua kena imbas walau mungkin dengan takaran yang berbeda, ada yang mungkin biasa saja menghadapi situasi ini tapi tidak sedikit yang sampai berpengaruh kepada priuk nasi atau kebulan asap dapur rumah orang-orang yang menggantungkan penghasilan mereka dari pendapatan harian, saya ikut berempati untuk siapa saja yang harus berjuang lebih keras terutama dibulan maret sampai mei kemarin, fase dimana aktivitas sosial dan ekonomi mau tidak mau harus dibatasi, sekarang pun tetap dibatasi juga sebenarnya tapi sudah lebih fleksibel saja.

Setelah cuti pulang kampung bulan Februari, kurang 2 minggu di Jambi dapat tugas kunjungan ke beberapa kota dengan spare waktu yang cukup singkat, sudahlah waktu mepet untuk persiapan dimana situasi juga sudah mulai tidak kondusif akibat Corona, ditambah perjalanan ini tanpa masker dan handsanitizer.. benar-benar modal pasrah karena 2 barang ini sempat jadi barang goib kemarin.

9 Maret, penerbangan pertama menggunakan Wings Air trayek Jambi - Medan.. trayek? sudah kayak bus saja.. Urusan pekerjaan di Medan hanya beberapa jam selesai.. yang buat makan waktu karena harus balik ke Kuala Namu lagi untuk ke Pekanbaru... dihari yang sama, tidak perlu dijelaskan panjang lebar bagaimana situasi kemarin, serba salah.. cari tempat duduk diruang tunggu yang berjarak dengan orang lain jelas tidak mungkin, mana bandara yang dikunjungi Internasional semua, entah dari mana-mana orang datang

Akhirnya setelah sempat acuh dengan kondisi badan.. sore itu sebelum terbang lagi saya makin yakin kalo sedang dalam kondisi sakit, idung meler, badan sumeng, tambah stress lah karena masih hari pertama sudah ketemu dengan kondisi yang model begini.

Sampe Pekanbaru jam 9 malam, masuk hotel gak pake mandi lanjut keluar cari makan, balik hotel bersih-bersih langsung tepar, sebelum subuh datang terbangun karena badan terasa makin panas, suhu kamar mau diatur gimana juga tetap gak ketemu yang pas, langsung guyur tenggorokan dengan sekaleng susu beruang, sampe hari terang gak tidur lagi. 

Masih jam 10 pagi urusan beres dan lanjut bandara lagi buat ke Medan, iya ke Medan lagi.. putar kepala, terbangnya menjelang sore jadi aktivitas lebih banyak duduk-duduk diruang tunggu.. ada lah diselingi dengan ngisi perut di Solaria yang bersebelahan dengan pintu kedatangan Internasional Sultan Syarif Kasim II, sampe Kuala Namu gak bisa langsung jalan karena ngikutin jadual kereta bandara arah Medan.


Disini yang paling epik, okelah masuk hotel pas maghrib tapi checkout-nya yang tidak biasa, mana hari itu demam makin jadi yang artinya aktivitas di Medan betul-betul hanya numpang tidur, singkatnya jam 3 pagi beres-beres lanjut mandi persiapan ke Kuala Namu lagi untuk terbang ke kota selanjutnya... sudah kayak anak orkes, pindah titik lokasi.

Citilink trip pagi dari Jakarta tujuan Banda Aceh transit di Medan, dia yang membawa saya ke serambi Mekkah, puncak sakit saya pecah disini, sekian menit take-off telinga kiri mulai budeg rasanya seperti udara terperangkap, sakitnya minta ampun.. kondisi seperti ini akibat perubahan tekanan udara, sebenarnya hal lumrah dipenerbangan tapi karena badan kurang fit jadi beda ceritanya.. nahan lah pokoknya, coba mangap buka-rahang lebar-lebar tapi tidak ada perubahan.

Turun di Sultan Iskandar Muda telinga lumayan mendingan, masih dipesawat juga sudah terasa pas mulai turun.. pelan-pelan hilang budegnya tapi ngilu-nya masih tinggal, cukup menusuk.

Mendung pagi di Banda Aceh jadi latar menyelesaikan tugas di etape pertama, penerbangan ke Jakarta dijadualkan sebelum jam 4 sore.. lumayan masih sekian jam kedepan, waktu kosong dibuat keliling-keliling singkat ke museum tsunami dan pas gerak ke bandara lewat didepan garasi Sempati Star, sempat ketemu sama Jetbus Coaster-nya di SPBU.

Trauma di Citilink tadi masih tinggal, belum lagi penerbangan berikutnya jauh lebih lama... Banda Aceh - Jakarta, karena pertama kalinya terbang dari Aceh jadi belum punya pengalaman tentang ini, tapi kalo lihat flight radar dan cerita kawan-kawan.. bisa sekitar 3 jam diatas.. beh siap-siap bengep ni kuping

Ternyata betul setelah take-off 15:40 baru sekian menit diatas kuping mulai budeg lagi, rasa sakitnya makin lengkap karena penumpang yang duduk disebelah batuk terus, bapak ini punya masker cuma gak dipake.. pasrah lah bisanya, penumpang lain juga cuek saja.. satu yang kepikiran waktu itu.. cepat-cepat disajikan makan supaya kondisi fisik bisa sedikit tertolong.

Sambil ngopi-ngopi diudara badan pesawat naik turun akibat turbulensi, penasaran cek lokasi dari map yang ada di screen Garuda, koordinat saat itu persis diatas Danau Toba tarikannya menuju Siborong-borong, disini bapak pilot minta pramugari buat balik ke posisi duduk, satu yang jadi fokus saya karena mbaknya masih dorong trolley.. kondisi krusial ini, karena pernah lihat di youtube ada pesawat kena turbulensi pas sesi makan minum isi trolleynya kemana-mana.. pikiran saya paling jelek waktu itu kesiram air panas atau gak kena timpa gerobak makanan ini.. wew.

Setelah terbang 2 jam lebih ketinggian pesawat mulai turun, kondisi diluar sudah gelap, pendar cahaya bergantian dari layar-layar monitor yang dipasang ditempat duduk, walau tanpa headphone saya tetap memutar 1 film yang entah sudah berapa kali ditonton.. Ocean Eleven.

Jangan ditanya sakitnya seperti apa, karena makin kesini bukan hanya telinga yang bermasalah tapi kepala rasanya seperti mau pecah, entah migrain atau bukan tapi ini pertama kalinya merasakan sensasi sakit kepala sebelah yang kurang ajar levelnya.

Sekitar jam 8 malam saya sudah berjalan dikarpet panjang yang dibentang sepanjang ruang kedatangan terminal 3 Soekarno-Hatta, sakit kepala tadi ternyata permanen dengan situasi sedikit lebih mendingan ketimbang diatas, tidak hanya itu telinga kiri juga resmi budeg dengan efek ada dengung-dengungnya.

Etape pertama sudah selesai.. Medan - Pekanbaru - Banda Aceh, sekarang sesi untuk etape kedua dan harus beberapa hari di Ibu Kota Negara, masih tentang pekerjaan tapi beda topik.

Ratusan manusia berserakan diluar areal Terminal 3, karena kurang suka dengan keramaian disana dan juga hari itu tanggal 11 Maret 2020 dimana WHO menyatakan COVID-19 sebagai pandemi global, saya langsung geser naik skytrain menuju lokasi tunggu bus Damri yang paling kondusif.. Terminal 1.

Manusia disini sebenarnya jauh lebih banyak, belum lagi antrian Damri sekarang sudah proses mandiri di counter, biar kata begitu tapi lebih mendingan daripada naik di Terminal 3 dengan alasan disini bisa milih tempat duduk karena busnya duluan kesini.

Tujuan seharusnya ke Mangga Dua cuma saya belokin ke Gambir karena nunggu Damri ke Mangga Dua waktunya tidak bisa diprediksi ditambah sudah malam juga, enaknya Gambir bisnya ada terus dan rata-rata armadanya unit baru pake Mercedes 1626 bodi Morodadi.

Dengan pilek yang makin jadi sudah begitu tanpa tissue atau sapu tangan, saya usap-usaplah hidung ke kerah baju bagian dalam, betul memang.. tidak higienis tapi ya mau gimana lagi, kalo tidak dibuat begitu makin meler yang ada.

Masuk Gambir langsung order taksi online buat ke Mangga Dua, hampir jam 10 malam  juga sampe di lokasi.. benar-benar hari yang panjang dan melelahkan karena sudah jalan dari subuh dan harus berada di 3 kota berbeda dihari yang sama, tidur di Medan.. kerja di Banda Aceh dan sorenya harus ke Jakarta.

Capek? jelas..