[Dialog Dua Satu]

Dia berjalan agak cepat dibawah teriknya siang, dua tas yang melingkar dibahu sesekali berganti tempat, tak butuh waktu lama bagi pemuda ini untuk sampai dimuka gerbang.. tapi setelahnya keadaan jadi berbalik.

Gegasnya tak tampak lagi, langkahnya mulai pelan menapaki luasnya areal garasi, matanya nanar memandang kedepan, apa yang selama ini ada dalam angannya terbayar sudah, dilihatnya  langsung Volvo B12M Omahmlaku dan Irizar Scania K-Series Omahmlayu berteduh mesra dibawah parkiran mirip hanggar pesawat terbang. Pesona milik Jetbus HD Scania K380 berjubah hitam disudut lain terabaikan oleh dua armada yang menjadi silsilah tertinggi dalam keluarga besar PO. Nusantara ini.

Jumat hampir mencapai puncak, tak terlihat aktivitas berarti pada perusahaan yang didominasi oleh anak adam ini, sepertinya mayoritas karyawan menunaikan kewajibannya pada sang Khalik, hal senada juga dipertontonkan Jalur Pantura yang mulai sepi oleh lalu lalang kendaraan.

Seperti sudah tahu arah, kakinya melangkah kebarat, masuklah dia kedalam kantor yang suhunya berhasil mengalahkan hawa panas diluar sana, dia duduk berhadapan dengan seorang perempuan berkacamata, tanpa berlama-lama diceritakan segala macam keluh kesahnya… Ah tak mungkinlah itu.

“Mbak..  Mau ambil tiket NS 99 atas nama *****”
“Oh.. Yang seat 1B mas?”


Perempuan ini “ngeh” karena kebetulan sudah dititip pesan oleh Mas Arbai, Mas Arbai sendiri adalah bagian dari Operasional PO. Nusantara Kudus yang dikenalan Uda Machrizal Masri, tanpa mereka berdua perjalanan lelaki ini mungkin akan sulit diwujudkan.. Terima kasih.

 “Saya bisa keliling garasi?”
“Bisa.. tapi harus dikawal mas”


Badai penasaran sepertinya makin menjadi, meski masih didalam kantor sorot matanya terus menatap barisan kendaraan panjang yang letaknya tak jauh dari hanggar tadi.






Pemuda ini keluar setelah menitipkan barang bawaan, sambil berjalan diamatinya satu persatu kendaraan yang ada diparkiran, mulai dari bus besar, kecil, mobil paket hingga VW Caravelle yang dibungkus dan hanya menyisakan penampakan bumper dan rodanya saja.



Bersama seorang pengunjung lain dia menyelami detail duet bus Premium dari dekat, tak ada sepatah kata yang terucap, hanya saja pengunjung lain ini lebih total sampai membuka pintu depan Omahmlayu.
Dia bergerak lagi ke sudut berbeda, kali ini langkahnya menuju lokasi yang menjadi pengamatannya dari kantor. Puluhan armada Nusantara mulai dari AKAP hingga divisi Pariwisata tumpah ruah menunggu giliran dimandikan, terlihat juga aktivitas perbengkelan pada satu armada Symphonie bercorak baru.





Tak disangka dia bertemu kenalan lama disini, kebetulan seorang kru Nusantara Palembang yang pernah ditemuinya sedang menemani mekanik, beberapa informasi terbaru didapat, sebut saja armada 1836 yang baru tiba dari Ibukota setelah mengikuti pagelaran yang diadakan MBI.

Sekian menit berlalu dia berpindah lagi, sambil jongkok diamatinya detail New Marcopolo NS 01 yang mengusung dapur pacu pabrikan Swedia, pusat perhatiannya adalah konfigurasi bangku yang tidak lazim pada kelas Super Eksekutif.




Puas berkeliling dibawah terik dia kembali ke awal, entah kebetulan apa lagi hingga pemuda tersebut bisa bertemu lagi dengan kru Palembangan yang lain, meski tak kenal nama mereka cukup lepas bercerita sampai-sampai Mbak Tari Operasional PO. Nusantara terheran menyaksikan ini.

Menunggu waktu bergulir membuatnya jenuh, jam keberangkatan masih jauh dari jadual, akhirnya dia merapat ke sebuah warung makan prasmanan disebelah SPBU, disini dia bertemu lagi dengan mekanik 1526, sayang pertemuan mereka singkat karena sang ahli mesin dikejar tugas lain.

Kombinasi kebosanan dan rasa lelah membuat pemuda ini tak seperti tadi, ketika kembali lagi ke garasi dia mencari akal bagaimana cara agar bisa beristirahat, sepertinya tempat ibadah disebelah kantor operasional adalah jawaban yang tepat meski sebenarnya akan mengganggu kenyamanan yang lain, ini bisa dilihat dari tulisan yang melarang tidur di Musholla, tapi apa boleh buat tampaknya dia tak peduli lagi, dia ingin sejenak terlelap agar bisa terjaga saat mengaspal di Pantura.

Merahnya sore akhirnya meredup, Mbak Tari dan rekannya menyudahi tugas hari itu, sebelum berlalu mereka mengingatkan “Mas nanti diantar sama Mas Mul”, ditunjuknya seorang lagi yang masih ada didalam kantor.

Karena tak mau mengganggu Mas Mul, dia duduk sendirian diluar ditemani 3 armada yang sudah siaga diparkiran kantor, ada New Marco 1525, Jetbus Hino RK8 Premiere Class dan Jetbus 1626 pariwisata.




Lampu penerangan disekitar garasi satu persatu menyala, barang bawaan yang dititipkan tadi mulai dikemasi, Mas Mul juga sudah siap dengan membawa beberapa dokumen dan paket kecil, selanjutnya mereka menuju area belakang garasi yang lintasannya mirip seperti sirkuit.

Mengamati dari celah jendela ruang tunggu, armada NS tampak mulai berdatangan, duo Scania Super Eksekutif tujuan Jakarta langsung mengisi kantong parkir, paling sudut ada NS 04, disambung NS 01 dan tak lama muncul lagi Mercedes 1526 suspensi udara kelas Eksekutif yang merapat agak jauh dari New Marco putih.

Barang bawaan dititipkan kembali pada Mas Mul yang kebetulan ada diruangan staf, pemuda ini terlihat tidak sabar untuk mendekat ke armada yang mengambil start dari Kantor Pusat Getas di Kota Kudus.





Tiga Bapak berseragam PO. Nusantara diajaknya berbicara, tak berapa lama dia izin melihat-lihat dalaman NS 01 dan NS 04, ditengah keramaian pemuda ini jadi pusat perhatian dengan keanehannya membidik sudut-sudut badan bus dengan kamera. Naik keatas NS 04 dia cukup senang karena bisa menyaksikan langsung wujud panel instrument Scania K380, untuk interior sendiri armada Lebak Bulus ini hampir sama dengan kelas Super Eksekutif kebanyakan, seat 2-1 yang dibenamkan sudah umum terlihat, meski begitu NS 04 nampak jauh lebih lapang.

Cerita berbeda muncul ketika naik keatas NS 01 dari pintu tengah, dia kurang begitu paham apakah bus pemberhentian akhir Daan Mogot ini mengusung Scania seri K310 atau sama dengan seri yang digunakan NS 04, ini terabaikan setelah disuguhi sesuatu yang lain dari pada yang lain, dengan tampilan bangku mirip maskapai Garuda Indonesia kelas bisnis, bus bertoilet tengah ini sudah mengadopsi sistem elektris pada bangku penumpangnya, cukup menekan tombol didekat sandaran tangan secara otomatis bangku bisa dinaik turunkan sesuai selera, tak sampai disitu konfigurasi seatnya sendiri melawan arus, bukan 2-1 melainkan 1-2... Amazing, bisa dikatakan Nusantara adalah pelopor untuk inovasi yang satu ini.






NS 90 tujuan Bekasi parkir disisi kiri NS 01, karena sudah sarat penumpang dia urung untuk menapakkan kaki kesana, diamatinya interior bus kelas SE yang menggendong mesin pabrikan Jepang itu dari dalam kabin NS 01, bangku yang digunakan sejenis dengan NS 01 hanya saja ada sedikit perbedaan pada bentuk.

Yang dinanti akhirnya datang, NS 99 masuk berbarengan dengan New Marcopolo 1525 yang entah akan kemana, jajaran armada Nusantara Super Eksekutif malam itu lengkap sudah.




Pengeras suara dari ruang tunggu menginformasikan penumpang kelas SE untuk melaporkan tiket sebelum naik keatas bus, dibawah guyuran gerimis pemuda tersebut nampak bergegas menuju sumber suara setelah memperhatikan penumpang NS 01 dan NS 04 bersiap diareal pemberangkatan.

Barang yang dititipkan tadi diambilnya dari ruang operasional, berpamitanlah dia dengan Mas Mul dan beberapa karyawan lain, langkahnya kembali lagi menuju keramaian tadi, NS 99 yang akan membawanya ke Bandung terlihat sudah dinaiki beberapa penumpang, satu tasnya yang agak besar diletakkan dibagasi sementara tas ransel ikut naik keatas.

Suguhan kabin NS 99 cukup elegan, pemuda sumatera kagum akan interior PO yang bisa dikatakan paling mewah dikelasnya, setelah mengamati sebentar dia langsung duduk pada bangku yang sudah dipesannya 1 bulan sebelum keberangkatan, walau begitu hatinya masih mendarat pada seat seberang kiri yang ternyata juga sudah ada pemiliknya.. siapalagi jika bukan seat 1A.






Armada berkelir ungu dibekali dengan dapur pacu Scania K380, untuk fitur tidak usah ditanya lagi, Scania tidak pernah tanggung-tanggung menyematkan inovasi dalam tiap serinya, sebut saja tenaga berlimpah, suspensi udara bawaan, retarder, ABS dan masih banyak lagi fitur modern lainnya, secuil kecanggihan jeroannya itu bisa terlihat disekitar panel instrumen. Belum pernah dia melihat tombol-tombol yang dibenamkan pada lingkar kemudi bus secara langsung kecuali pada mobil pribadi kelas premium.

Rumah-rumah besutan karoseri Adi Putro seperti sudah jadi menu wajib armada Karang Anyar, namun ada yang spesial dengan NS 99, gaya yang diusung “Signature Class” tak seperti unit kebanyakan, khusus kelas ini model bodi yang digunakan adalah duplikasi Irizar Spanyol yang dipesan khusus oleh PO. Nusantara dan tidak diproduksi secara massal, didalamnya tertanam 19 seat hidrolik persis dengan NS 01 hanya saja untuk NS 99 strategi bangkunya menerapkan formasi 2-1.

Dia mengamati perkembangan diluar dari tempat duduknya, NS 01 dan NS 04 mulai beranjak, NS 90 Hino RK8 suspensi udara perlahan pergi dan menyusul duo Scania tadi, suasana berbeda terlihat didalam kabin NS 99, jumlah penumpangnya tak seperti Super Eksekutif tujuan Jakarta dan Bekasi, menjelang detik keberangkatan hanya 5 orang saja yang sepertinya akan dibawa dari Kudus, sangat mudah mengabsennya, seat 1A dihuni mas-mas asal Rembang, pemuda sumatera pada seat 1B, lelaki paruh baya dibangku 4A dan terakhir sepasang suami istri penghuni seat 4B dan 4C.

Bus pabrikan Swedia memulai perjalanannya sebelum pukul 7 malam, ditinggalkannya Marco 1525 dan Scania London Bridge yang kini berganti corak mirip NS 99, masih menapak didalam lintasan garasinya saja nuansa servis bus mewah langsung menyeruak ke permukaan, volume hiburan kabin diatur sayup-sayup, lcd tv dimatikan, hembusan pendingin udara terasa sejuk tapi tak menusuk, pengharum ruangan otomatis bekerja dengan baik, kenyamanan yang disuguhkan ini dirasa sudah lebih dari cukup, kocek 185 ribu yang dikeluarkan atau bisa dibilang naik sekitar 10% pada musim liburan terasa sebanding dengan apa yang didapat.




Kilatan dan gemuruh menyapa armada tujuan Bandung saat mulai menapaki Jalur Pantai Utara yang malam itu terlihat ramai lancar, belum setengah jam perjalanan hujan turun dengan derasnya, meski begitu langkah Scania tak dikebiri, diatas gelombang aspal tambal sulam persnelingnya masih setia bertengger diposisi 6.

Pemuda ini tertegun menyaksikan suasana tertib lalu lintas disatu titik persimpangan jelang Terminal Semarang, bagaimana mungkin ditengah guyuran hujan lebat pengendara motor rela berbasah-basahan demi menunggu giliran untuk jalan, sangat sulit rasanya menemukan fenomena seperti ini ditanah kelahirannya.

Sedikit minus NS 99 tersibak ketika dia menyambangi fasilitas dipojok kanan belakang, agak janggal rasanya bus yang menyandang gelar Super Eksekutif memiliki toilet yang kurang memenuhi standar kelasnya, apa mungkin fasilitas ini jarang digunakan sehingga terlepas dari pengamatan? Atau mungkin jadual perawatannya minim karena dijalankan setiap hari? Tapi sudahlah, masih ada poin tambah didepan pintu toilet, dua keset besar diletakkan berjajar yang dimaksudkan agar alas kaki benar-benar kering ketika kembali menapaki lantai kabin.

Lewat didepan Terboyo genangan air menutupi badan jalan, para pejalan kaki terpaksa rela mendapat bonus tambahan berupa semburan air dari kendaraan yang lewat, sebelum ambil kiri untuk naik tol, realita dijalur bawah mempertontonkan banjir yang nyaris sebetis orang dewasa.. Kenapa kita tidak pernah memakai hitungan cm ya?

Hujan perlahan berhenti saat kaki-kaki NS 99 berpijak diatas aspal Tol Semarang, dia berkomunikasi pesan singkat dengan Mas Arbai, maklum saja.. hingga waktu keberangkatan tiba mereka tak sempat bertemu karena Mas Arbai ada urusan keluarga.

Bisa dibilang banyak kejutan disini, ketika berhenti digerbang tol pemuda ini serius menyaksikan rupiah yang keluar untuk mengakses jalan bebas hambatan, uang yang digunakan berasa dari bapak pemegang surat jalan, hebatnya lagi sisa uang langsung dikembalikan pengemudi, benar-benar satu pengalaman lain untuk dia yang biasa melahap Lintas Sumatera.

Kerlap-kerlip cahaya Tol Semarang malam hari benar-benar memukau, penerangan rumah penduduk seakan sekelompok kunang-kunang dalam jumlah besar, semuanya bertambah meriah saat NS 99 berhasil mendekat dan mendahului Ramayana RK8, menyusul Bejeu Scorpion King dan mampu mengimbangi PO. Slamet yang sebelumnya beraksi atraktif dari kiri.

Keluar pintu tol situasi berubah drastis, arus kendaraan mulai berdesakan, tanjakan konstruksi beton berhasil membuat barisan bus malam merayap, mulai dari GMS, Bejeu Scorpion King lain, Bejeu 1525 Selendang, NS 04 dan begitu juga dengan NS 99.

So Tasty yang tak lain adalah resto milik PO. Nusantara mulai terlihat plang namanya, Signature Class masuk dipandu oleh seorang penjaga pos keamanan, NS 99 parkir disudut kiri belakang berdekatan dengan NS 01 dan NS 04 yang lebih dahulu tiba, areal parkiran depan sudah diisi beberapa armada NS Eksekutif dan barisan mobil pribadi.

Lampu kabin dinyalakan, penumpang mulai turun, langkah mereka seragam menuju ruang makan, tapi tidak dengan pemuda ini, dia seperti menikmati sekali suasana So Tasty malam itu, tak salah memang.. Di negeri ini mungkin baru PO. Nusantara sendiri yang menerapkan konsep rumah makan bus AKAP layaknya restoran cepat saji.






Mas-mas penghuni seat 1A yang jadi teman bicaranya sedari pemberangkatan ikut kena imbas setelah mau saja diajak berkeliling, meski berdomisili di Jawa mas ini awam dengan servis Nusantara, bukan karena tak pernah naik bus, melainkan dia adalah pelanggan salah satu PO ternama yang baru kali ini mencoba cita rasa armada Karang Anyar, jadilah mereka berdua tampak tak jauh beda, setelah bertanya sebentar akhirnya karyawan So Tasty mengarahkan dua pemuda ini ke lantai atas gedung belakang.

Penumpang lain NS 99 tampak dari muka pintu, mereka antri menanti giliran, Nusantara menerapkan hidangan prasmanan sebagai servis, satu hal yang biasa terlihat disepanjang rumah makan Jalur Pantura, menu yang disajikan sejalan dengan tampilan bangunannya, cukup menukarkan potongan kecil dibelakang tiket satu paket menu makanan lengkap dengan buah dan teh botol bisa dinikmati sebagai santap malam.

Setelahnya dia keluar, dari sudut kanan atas So Tasty dilihatnya bagaimana ruang parkir malam itu sesak oleh pasukan Kudus ke berbagai tujuan, sebut saja NS 50 Pati - Palembang yang agak kebingungan memutuskan akan parkir dimana.

Turun kebawah pemuda tersebut langsung disambut wajah-wajah baru penumpang NS 99 yang naik dari Semarang, jumlahnya lumayan juga mungkin ada sekitar 8 orang, disini dia baru sadar jika Irizar lokal hanya diawaki 2 orang tanpa pengemudi pengganti, satu regulasi yang sangat tidak biasa menurutnya.







Bapak pengemudi dengan perawakan sangat subur kembali mengisi ruang kerjanya, asistennya menyusul naik sambil menekan satu tombol dashboard untuk memadamkan lampu kabin, penumpang baru sudah menempati posnya masing-masing, mulai dari sini seat 1C sudah berpenghuni.

Griffin ungu tak langsung meninggalkan So Tasty, ditungguinya NS01 hingga selesai menaikkan penumpang, setelahnya mereka keluar serempak meninggalkan NS04 dan barisan NS-NS lain, belum lama waktu bergulir Bapak dibangku 1C lebih tertarik dengan seat 2A karena bisa sejajar dengan anak istrinya, pemuda sumatera beruntung sekali.. ini yang namanya beli 1 dapat 2.

Kedipan milik Harapan Jaya blur dikaca depan NS 99 yang masih diselimuti sisa air hujan, Scorpion King berlampu touring skuad Tulung Agung lincah bak belut, liukannya seirama dengan sein yang bergantian kiri kanan, Madu Kismo SR-1 tak sanggup meladeninya berlama-lama, NS 99 dan kendaraan lain hanya menjadi penonton saja, setelah sekian menit barulah pertunjukan kecil disuguhkan Signature Class dengan cara mendahului SR-1 dari kiri.

Lewat dari jam 9 malam arus kendaraan dari kedua arah sempat dihadang penyempitan jalan dekat Indomaret Sri Agung Cepiring, NS 99 masuk ke jalur lawan setelah mendapat celah dan berhasilah dia merapat kembali dibelakang NS 01 yang sejak keluar So Tasty hilang dari pandangan.

Parkiran RM. Sari Rasa didominasi Rosalia Indah dan Harapan Jaya, dari sini NS 99 mulai melaju meski tak maksimal, masih di Kendal Irizar lokal merapat dibelakang NS 01 yang konvoi bersama Kramat djati Jetbus dan Shantika Tentrem Air S, selanjutnya NS 01 kembali menjauh setelah RM. Sendang Wungu.

Antrian kecil dimulut tanjakan Plelen dilewati NS 99 dengan cara mengakses jalur lawan mengikuti langkah NS 01, nama-nama seperti Rosalia Indah, Kramat djati dan Harapan Jaya ditinggalkan dengan mudah, sayangnya NS 99 mati langkah setelah menjadi buntut PO. Haryanto unit baru yang kaca belakangnya bertuliskan “Laskar Pantura”, lagi-lagi NS 01 pergi tanpa pesan.

Menjauhi Plelen NS 99 terlihat bersemangat ingin menyusul Haryanto, dia yang di seat 1B kembali menyambangi sudut kanan belakang Irizar, saat membuka pintu toilet pemuda ini tersentak sesaat, tuan rumah seat tunggal paling akhir adalah seorang wanita berbusana “can see”, berani sekali mbak ini menantang suhu kabin Signature Class yang terasa mulai menusuk.. Berguru dimana mbak?

Dikenakan lagi jaket yang sempat dibukanya sambil menyaksikan NS 99 kian merapat dibelakang Haryanto, “Laskar Pantura” nyaris blunder ketika tiba-tiba masuk ke lajur kiri, entah sadar atau tidak kendaraan roda dua yang berada persis disebelahnya nyaris tersenggol buritan, motor yang melaju cukup kencang itu oleng dan turun dari badan jalan, untungnya tidak terjadi apa-apa, melihat ini pengemudi NS 99 mengatur retarder untuk meredakan lari K380, jika diteruskan bisa jadi “Laskar Pantura” makin tak karuan didepan.
Dia mengambil kesimpulan sementara untuk NS 99, bus yang sengaja dicobanya ini bisa dikatakan bukan tipikal bus malam yang mengandalkan kecepatan semata, Signature Class lebih menonjolkan aspek kenyamanan sesuai dengan fasilitas yang diusungnya.. terbukti memang.

Memasuki daerah Batang ada hiburan kecil dibelakang PO. Santoso yang dibajukan karoseri Laksana, stiker “Jalan Hidupku” terasa jantan tertangkap mata pemuda ini, tulisan putih ambigu seolah menggambarkan apa yang ingin disampaikan para pencari nafkah antar kota antar propinsi, mengundang tawa memang, namun setelahnya terasa dalam.

NS 99 makin dekat dengan bus yang berjalan searah didepannya, dia sudah tak asing lagi dengan sosok yang satu ini, malah dia sudah yakin 100% didepan sana adalah Yoanda Prima yang entah ada urusan apa ke Pulau Jawa, namun saat makin dekat dan berhasil dilewati NS 99 pemuda ini jadi bingung sendiri, apa armada hijau New Marco HD Senja Furnindo masih tersisa?

Menyapa Pekalongan rata-rata penumpang terlelap, fasilitas Signature Class yang terlampau nyaman menciptakan dengkuran-dengkuran yang bersahutan dari belakang, jika sebelumnya arah barat yang rajin buka jalur, kali ini giliran arus kendaraan dari Jakarta yang membuat NS 99 menepi, salutnya pengguna jalan disini sudah saling mengerti.

Griffin ungu mudah saja digusur oleh Bejeu Scorpion King dan Gajah Mungkur SR1, merasa dipecundangi sekaligus NS 99 mulai ikut bermain, mungkin akibat terlalu bersemangat PO. Raya yang berada dilajur kanan nyaris disundul Signature Class dari kiri, untungnya bus asal Solo dengan pembawaan yang membumi itu sigap dan memberi sedikit ruang untuk Irizar lokal.



Pengerjaan jalan di Lingkar Pemalang mempertemukan NS 99 dengan Ramayana dan Putra Remaja Evonext, memasuki Tegal penghuni 1B tampak lelah dan mulai merebahkan badannya, yang diingatnya hanya saat K380 buka jalur dan berhenti diperempatan lampu merah, samar dia mengikuti bagaimana pengendara dari ketiga arah mematuhi lampu lalu lintas yang masih berfungsi tengah malam.

Tepat pukul kosong-kosong aspal Brebes berhasil dipijak, bayang-bayang dua bus yang melaju dijalur lawan membuat pemuda ini terjaga, PO. Santoso Sprinter disusul Kramat djati RG mempertontonkan sedikit kegilaan pada NS 99 yang setia melangkahi lubang-lubang menganga pada jalur dimana semestinya mereka berada.

NS 99 berhenti tak jauh dari NS 01, pada ruas jalan lebar ini terlihat juga PO lain menepi, tak ada satu penumpang yang turun, yang terlihat berbincang diluar hanya kru saja, selang beberapa menit PO. Haryanto “Laskar Pantura” yang sebelumnya sulit digapai melintas dan menjauh, entah dimana dia berhasil dilewati, NS 01 kembali menapaki jalan lurus yang sudah masuk areal Tol Pejagan, sesudahnya NS 99 menyusul dalam kesendirian.



Uji performa mesin dipertontonkan disini, dengan tampilan speedometer yang futuristik, Scania rasanya pantas mendapat julukan “the real premium chassis“, suspensi udaranya stabil dan telaten meminimalisir getaran serta guncangan ketika melaju hingga jarum kecepatan menunjuk habis kearah kanan, dalam sekejap NS99 menyapu Rosalia Indah Morodadi dan Kurnia Jaya, ini belum termasuk kendaraan pribadi dan barisan truk yang sebelumnya jadi santapan wajib, setelah gerbang Tol Mertadapa NS 99 exit dipintu Tol Plumbon, dari sini Signature Class berpisah dengan NS 01 yang menuju Jakarta.

Dia terjaga ketika NS 99 mulai menaklukkan tanjakan Sumedang yang diguyur gerimis, kontur jalanan sekilas mirip dengan beberapa titik di Lintas Sumatera, lingkar kemudi K380 mudah saja berputar mengikuti irama lintasan, dalam beberapa kesempatan Irizar mampu mendahului meski sesekali membuat kendaraan dari arah lawan berhenti karena ruang geraknya dipangkas, lebih hebatnya lagi Bapak pengemudi tak sedikitpun menyiratkan rasa kantuk dan lelah meski harus sendirian bertugas didepan, asistennya tadi sudah kebelakang sejak meninggalkan Tol Pejagan.

Cadas Pangeran terbaca dikanan Irizar Adi Putro, medan yang dilalui masih sama seperti tadi, bedanya tanjakan disini mulai bersahabat, NS 99 sempat kres dengan PO. Merdeka trayek Bandung – Tegal dan mendahului armada CBU yang dinihari itu melaju dengan apik.
Jatinangor dilewati NS 99 setengah 4 pagi, lewat dari sana 1 penumpang turun di Cibiru, setelahnya Bapak bangku 2A beserta anak istrinya menepi di Ujung Berung.

Penumpang tujuan akhir Terminal Cicaheum turun setengah jam setelahnya, ternyata banyak juga yang menyudahi perjalanan disini, sebut saja Mas Satrio penghuni seat 1A dan perempuan "sakti" yang mendiami bangku belakang.


 


Sisa penumpang NS 99 tak sampai setengah, gambarannya mirip dengan awal perjalanan dari Kudus, dibawah langit yang masih gelap Irizar kembali melanjutkan perjalan, pemuda yang bermukim di 1B pindah ke 1A demi menjawab rasa penasarannya, tapi siapa sangka view 1A tak seperti yang diharapkan, beruntunglah dia yang semalaman bisa berada di 1B yang posisinya persis ditengah kabin.

Signature Class akhirnya tiba di Jl. Padjajaran Bandung, kru menginfomasikan lokasi pada para penumpang yang akan turun disini, kantor masih tertutup rapat hanya saja dari jendelanya terlihat ada aktivitas didalam, pengemudi Taksi yang sudah hafal dengan jam kedatangan NS mulai berdatangan, dia langsung masuk ke kantor setelah mengemasi bawaannya, NS 99 tak berhenti lama dan kembali melanjutkan langkahnya bersama sisa penumpang ke tujuan akhir garasi Soekarno Hatta.



Satu staf operasional Agen Nusantara Bandung yang bermalam disana jadi temannya menunggu pagi, disini dia baru tahu jika Mas Aan NS 99 yang fenomenal itu telah hengkang dari Nusantara.

NS Eksekutif masuk berbarengan, sambil mengamati duo armada Kudus dia berdiri diluar menyaksikan pasukan PO. Bandung Express diseberang jalan, dalam hitungan tak sampai 10 menit mulai dari SR-1, Morodadi Setra Selendang, hingga armada besutan kandang sendiri satu per satu masuk kedalam garasinya.

Saat sinaran pagi datang pemuda ini sadar perjalanan sudah selesai, namun bukan berarti berlalu begitu saja, melainkan berakhir jadi cerita.

Salam..

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "[Dialog Dua Satu]"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel