Segunung Harta Pulau Dewata



Turunlah saya dimuka terminal Ubung, jasa Gojek yang mengantar dari sekitaran RS Sanglah Denpasar diganti dengan belasan ribu rupiah, baru sekian meter masuk areal terminal ada sesuatu yang menarik perhatian, ternyata berita yang santer belakangan ini benar adanya, saat itu tampak aparat mengamankan sekelompok orang yang diduga calo setelah mereka berselisih dengan calon penumpang.

Saya yang kebetulan sudah mulai akrab dengan tempat ini langsung menuju lokasi saat pertama kali tiba, diwarung makan sederhana sudah ada teman-teman sehobi yang biasa melepas penat setelah rutinitas, beberapa dari mereka sudah saya kenal.

Mayoritas teman-teman sehobi berasal dari pulau Jawa dan kebanyakan dari Jawa Timur, kami bertukar cerita dan informasi mengenai bus Indonesia masa kini, dari mereka saya bisa mengenal lebih dalam “Bali Perdana” meski batal mencobanya.

Pembuka jalan pulang via darat jatuh ke salah satu bus putra daerah “Gunung Harta”, untuk urusan bangku tidak perlu saya risaukan, tiketnya sudah diamankan sebulan sebelum perjalanan terjadi, saya masih ingat betul reservasinya dilakukan via telepon tepat dibelakang musholla kantor setelah bubaran jam kerja.

Tiket sampul hijau tujuan Surabaya tertanggal 19 Agustus 2016 ditebus dengan Rp. 200.000, nomor bangku yang ditulis sama dengan pesanan saya, posisi 1B jadi andalan sejak lama, entah kenapa sweetspot saya ada dibaris kiri paling depan persis disebelah lorong, lega saja rasanya memandang ke berbagai arah.

Lho tapi kok Surabaya? Bukannya tujuan ke Jakarta?..
Begini.. Semakin berjalan semakin saya mengamini Estafet adalah cara terbaik untuk penikmat jalur darat, selain mendapatkan beragam cerita dan pengalaman, bisa juga menjajal berbagai macam bus dengan mesin dan model karoseri berbeda, belum lagi jalur yang dilalui tidak monoton, ditambah bisa menghemat ongkos pula karena memilih sesuai dengan kondisi kantong.
Dimana letak hematnya, sementara harus bertukar kendaraan?

Saya ambil satu contoh seperti pernah tahun lalu ke Medan estafet dari Jambi, bus langsung tujuan Jambi – Medan ada dan mematok harga 400 ribuan, sementara itu dilain tempat dari Jambi tujuan Bukit Tinggi bertiket Rp. 140.000, dari Bukit Tinggi ke Medan saya naik ALS keluaran anyar via Danau Toba dengan cukup membayar 180 ribu saja, disini terlihat perbandingan cost yang selisihnya lumayan buat bekal dijalan.

Meski begitu cara ini tetap ada minusnya, yang paling terasa merepotkan adalah kendala pemesanan bangku dan naik turun bus dalam rentang waktu perjalanan yang cukup panjang, jelas akan beda ceritanya jika saya membeli tiket sekali jalan Denpasar – Jakarta dengan 1 PO saja.. praktis dan tidak repot, tapi kembali lagi.. disesuaikan dengan kebutuhan.

Armada pemberangkatan sore perlahan meramaikan Ubung, yang kelihatan paling dominan adalah pasukan kelir hijau PO. Gunung Harta, berbagai tipe dan kelas parkir menyebar, mulai dari armada kelas ekonomi sampai ke rilisan terbaru yang tiap bangkunya sudah menggunakan Private TV.
Sambil cerita-cerita GH.088 dengan dapur pacu Scania parkir mundur didepan kami, tak berapa lama datang lagi armada sekelas dengan jeroan berbeda, GH.026 mengisi ruang kosong diantara PO. Setiawan dan GH 088 tadi.

9





Hari itu Gunung Harta memasang duet 026 dan 088 untuk kelas tertinggi, keduanya dibajukan bodi yang sedang "in" sekarang, Jetbus SHD buatan Karoseri Adi Putro Malang dengan 2 lembar kaca depan.

Meski secara fisik kembar identik keduanya tetap memiliki perbedaan, yang paling mencolok adalah satu bermesin lansiran Swedia dan satu lagi buatan Jerman, keduanya juga beda Divisi.. Scania milik Manajemen Malang sementara Mercedes bernomor polisi pulau dewata, ini juga yang membuat keduanya beda tujuan.

Setelah pamit dengan kawan-kawan saya masuk kedalam GH.026, penumpang yang dibawa dari Ubung tidak banyak, tapi saat bayaran tiket sempat melihat sekilas surat jalannya, kemungkinan besar bakal mampir lagi disuatu tempat, O500R berangkat on-time pukul 17.00 WITA.

34

Suspensi udara Mercedes-Benz O500R 1836 langsung terasa mengayun saat baru saja berjalan, GH.026 tujuan Surabaya berangkat lebih dulu meninggalkan GH.088, Scania K360 Opticruise yang masih berdiam diparkiran Ubung itu akan ke Malang, keluarnya kami berjarak setengah jam setelah Gunung Harta Setra 1626 yang entah akan kemana.

Harus diakui sinar matahari Bali beda sekali dengan yang biasa saya lihat, sore itu pandangan kedepan sangat silau, pengemudi GH yang tidak heran lagi dengan hal ini langsung mengenakan kacamata yang digantung dekat pintu, sempat mau saya imbangi tapi yang ada nanti malah malu-maluin diri sendiri.

Sejak bergerak dari Ubung hanya terlihat 2 kru yang bertugas, satu sebagai pengemudi dan satu lagi helper, disebuah simpangan lampu merah saya tanya-tanya singkat keduanya, mereka sangat ramah dan open sekali, informasi seputar Gunung Harta cukup lengkap saya dapat, bahkan sampai ke armada yang akan rilis.

Teman duduk disebelah kiri adalah mas-mas asal Surabaya, sempat saya izin dan bilang kalau jangan kaget misal di perjalanan nanti saya banyak fokus ke kamera, ternyata masnya sudah ngeh walaupun tidak memiliki kegemaran serupa, dia bilang "Oh.. pernah ketemu juga yang seperti mas ini" syukurlah.

Seperti biasa diawal-awal perjalanan saya selalu mengamati interior, disinilah baru menyadari walau kelasnya sama dengan GH.088 tapi ada pembeda dalam fasilitas, meski sama-sama rilisan Alldila desain bangku GH.026 tidak sefuturistik armada Malang, ditambah lagi bus tujuan Surabaya ini minus PTV ditiap bangku, hiburan visual kabinnya konvensional dengan menggunakan 1 buah lcd tv didepan.

Tebakan saya terbukti, kami mampir disatu lokasi yang kemungkinan sebagai kantor pusat penjualan tiket Gunung Harta di Bali, ruang tunggu penumpangnya padat dan sepertinya ini titik kumpul ke berbagai tujuan yang dilayani dari Denpasar, seat kosong GH.026 terisi cepat, snack dibagikan disini dan saat kami mundur untuk berbalik arah sudah ada GH.088 parkir dibelakang.

Kemacetan panjang jelang simpangan terminal Mengwi diblong GH.026 dari jalur lawan, sambil menikmati sore penutup di Bali saya komunikasi dengan beberapa orang mulai dari kakak sampai ke satu teman sehobi yang tinggal Semarang, mas inilah yang membantu untuk mendapatkan tiket bus Rosalia Indah dari Solo ke Jakarta.. Matursuwun mas Eri.

Sama seperti halnya cita rasa Trans Sumatera, sejak pertama kali masuk ke Bali dengan PO. Surya Bali saya langsung menempatkan lintasan dan panorama alamnya kedalam salah satu jalur terbaik yang pernah dilewati, bahkan saat menulis ini saya langsung terbayang  lagi jalanan disana.

Trek perbukitan dengan lebar jalan pas-pasan membentang setelah 1 jam meninggalkan Denpasar, selain ditunjang panorama alam.. suasana jelang sunset semakin lengkap dengan kehadiran Restu Mulya dan PO. Setiawan didepan, meski begitu ada pemandangan miris di satu tikungan patah sebelum jembatan, bangkai bus Mercedes-Benz 1526 bodi Evonext milik sebuah PO tampak baru dievakuasi dari dasar jurang, ini seperti mengisyaratkan dibalik tampilannya yang eksotis jalur ini berbahaya.

Saya tidak tahu apa nama daerahnya, yang diingat ada 2 jembatan pendek sebelum tanjakan panjang, disanalah Restu Mulya tujuan Yogyakarta kepayahan naik dan langsung O500R dahului, sempat kepikiran kok Golden Dragon yang biasanya mudah saja nanjak malah ngos-ngosan kali ini.

Volume hiburan kabin disetel sayup-sayup, ini jadi satu poin plus lain dari Gunung Harta, kebetulan saya memang tidak terlalu suka suara yang berlebihan saat diperjalanan, yang bisa mengganggu konsentrasi berkendara dan mengurangi taste dalam menyelami keindahan alam, tapi tetap saja ada perbedaan selera disini, earphone sudah menempel sedari tadi ditelinga.

Lirik lagu milik band asal kota gudeg ini jadi pilihan terbaik sebagai latar berpisah sejenak dengan senja, tembang-tembang yang diputar dalam kabin Adi Putro seketika bias karenanya.
GH.026 menepi didepan kantor perwakilan Kab. Negara, kami berhenti agak lama karena ada penumpang dan paket yang dibawa dari sini.

Ada satu pemandangan unik selepas meninggalkan keramaian Kota Jembrana, bus dengan stiker “Paramuda” menepi disebuah Pura yang didepannya ramai ibu-ibu pedagang manisan, karena kru dan pemilik beragama Hindu, merekapun melaksanakan ritual sesuai kepercayaannya, tampak Pedanda membacakan doa dan memberikan air pada kru, tak lupa pula bagian depan Gunung Harta dipercikkan air tadi, jujur ini sakral sekali menurut saya.

Lintasan naik turun tanpa lampu jalan jadi lokasi uji performa dapur pacu, dalam kondisi jalanan lengang mesin OM475LA dimaksimalkan kerjanya, armada ini sama seperti O500R yang lain.. final gear dilimit pada RPM 1500, alhasil raihan puncak jarum speedometer hanya sampai 100 km/jam saja.

Jetbus SHD mengisi bahan bakar sebelum masuk areal penyeberangan, dipompa sebelah ternyata ada GH.088, beberapa bus lain juga terlihat, ada Pahala Kencana divisi Malang, PO. Setiawan dan unit Gunung Harta AKDP.

6

Tidak ada yang namanya antrian panjang digerbang masuk Gilimanuk, GH.026 diarahkan ke kanan untuk bergabung dengan kendaraan lain yang juga menunggu giliran menyeberang, kapal yang akan kami naiki sudah bersandar dan sedang mengeluarkan isi perutnya, kendaraan-kendaraan yang dibawa dari Banyuwangi kelihatan satu persatu.

Merasa ada banyak waktu senggang, saya izin dengan kru untuk berkeliling, beberapa penumpang lain ikut turun, melihat dari koloni antrian sepertinya akan ada 4 bus yang bergabung dengan kami, GH.088, Pahala Kencana, Setiawan dan bus pariwisata, sementara didermaga lain tampak juga aktivitas bongkar muat, satu Gunung Harta Golden Dragon ada disana.

Tiba giliran kendaraan menuju pulau Jawa masuk kapal, saya tidak kembali ke GH.026 dan memilih diam disatu sudut yang posisinya cukup bagus, saya ingin menangkap momen saat barisan kendaraan besar ini lewat, sayangnya lensa kamera gagal fokus akibat penerangan yang minim.

gilimanuk
7

Jarak Gilimanuk dan Ketapang sebenarnya tidak jauh, kedua dermaga malah bisa dilihat dengan mata telanjang, tapi terjangan ombaknya benar-benar tidak biasa, ini yang membuat pelayaran dengan durasi 50 menit rasanya bisa lebih lama dari Merak – Bakauheni, yang tidak kuat gelombang siap-siap mabuk laut disini.

Malam itu angin di Selat Bali cukup deras, belum lagi berlayar badan kapal sudah menerima efeknya, barisan truk dibaris terakhir kelihatan bergoyang seirama.

Perbedaan lain yang paling mencolok antara penyeberangan Selat Bali dan Sunda adalah ukuran kapalnya, penyeberangan Merak – Bakauheni didominasi kapal berukuran besar sementara di Selat Bali sebaliknya, mungkin faktor kedalaman perairan jadi alasannya, namun meski berukuran mini malah ini jauh lebih menarik, berbeda dengan penumpang Selat Sunda yang hanya bisa jalan ke belakang, di Selat Bali penumpang bisa bebas ke dua sisi, seperti kapal yang saya naiki malam itu.

Berangkatlah KMP yang saya tidak tahu namanya ini meninggalkan Gilimanuk, barisan lampu dermaga dengan warna keemasan perlahan menjauh, disanalah saya lambaikan tangan sekilas sebagai ucapan terima kasih atas segunung harta dan pengalaman serta salam perpisahan dengan Bali.

Intensitas gelombang semakin bertambah saat mulai ke tengah, badan kapal mengayun kuat kiri kanan, dari tempat saya duduk kelihatan jelas 2 truk PS nyaris bersenggolan baknya, meski suasana sedikit mencekam ada selipan cahaya bulan dilangit cerah yang membuat lupa kalau sedang berada ditengah laut malam itu.

Rombongan mbak-mbak bule penumpang Pahala Kencana dengan keriuhan mirip ABG Indonesia pindah ke sisi lain, pendar lampu Gilimanuk sudah kelihatan timbul tenggelam, saya masih mantap duduk di dek belakang, berdiam disini saja anginnya terasa kencang, apalagi kalau pindah kedepan.. yang ada malah masuk angin.

Susunan megah lampu pelabuhan Ketapang mulai kelihatan, setelah 3 hari di WITA akhirnya saya kembali lagi ke WIB, penumpang di dek kapal turun menuju kendaraan masing-masing, saya termasuk orang terakhir yang naik ke GH 026, pengemudinya tampak bersiap-siap.. Bli ini istirahat tidur saat pelayaran tadi, wajar namanya juga main tunggal.. wajib curi-curi waktu supaya tetap fit.

8

Setelah bersandar satu persatu kendaraan dimuntahkan dari mulut kapal, GH.026 keluar dibelakang Scania hijau, GH.088 dan Pahala Kencana jalan duluan sementara kami berhenti sejenak sebelum exit pelabuhan, dari papan petunjuk arah terbaca kiri ke Bandara Blimbingsari dan kanan menuju Surabaya.

Karakter ruas jalan Lintas Sumatera sudah mendarah daging pada saya, harus diakui bentangan Jalur Pantai Utara yang didominasi tol dan separator kurang bisa saya nikmati, tapi.. akan lain ceritanya kalau sudah masuk wilayah Kudus dan diteruskan ke Timur, nuansa Lintas Sumatera kental sekali disini.

Jarak yang tercecer selepas pelabuhan coba dirapatkan lagi, GH.026 mulai mendekat ke GH.088 diruas Banyuwangi – Situbondo, disini keduanya bermanuvar cantik mendahului kendaraan dengan latar tepian laut, satu mobil pribadi KIA Travello ikut ambil bagian, dari caranya mengambil celah dan memainkan sein kelihatan kalau dia menjiwai konvoi ini.

Pukul 22.45 WIB duet Gunung Harta pemberangkatan Denpasar meninggalkan hingar bingar jalan raya, satu unit Jetbus Setra 1626 dari arah Barat sudah berdiam disudut lain, ketiganya istirahat diparkiran RM. Sumber Harta Baru yang tidak begitu luas.

Seperti standart servis bus eksekutif Jawa - Bali pada umumnya, kupon makan yang sudah include dengan tiket ditukarkan disini, sajiannya prasmanan dengan sayur dan lauk pauk ala rumahan, meski saya penggemar nasi padang tapi untuk jalan jauh lebih selera dengan menu ini karena cocok disantap kapan saja, nasi ayam dengan sop panas dan segelas teh hangat jadi pilihan terbaik untuk mengusir hawa dingin AC Denso yang masih membungkus badan.

9

Keduanya berbarengan beranjak dari Rumah Makan yang berlokasi di Banyuputih, GH.088 masih betah jadi pemandu didepan, perlahan tapi pasti mesin-mesin bertenaga besar pabrikan Eropa dimaksimalkan lajunya, entah berapa kali Mercedes 1836 membayang dibelakang Scania transmisi otomatis dan kadang memasukkan wajahnya ke jalur lawan, kelihatan memang meski pengoperasiannya konvensional tapi manual masih jadi pilihan terbaik.

Malam yang meninggi mengajak untuk istirahat, saya sering kelepasan tidur sejak melewati Hutan Baluran sampai ke PLTU Paiton... padahal dua tempat ini adalah salah dua view terbaik Jalur Pantura menurut saya, sesekali sempat juga terbangun dan update perkembangan didepan, GH.088 makin ganas menapak diatas aspal hitam, Pahala Kencana yang sekapal dengan kami disikatnya pada tikungan menurun PLTU Paiton Baru, bias lampu belakang Griffin hijau pun menghilang.

Lepas 8 menit dari pukul 1 pagi armada berplat DK membayangi Pahala Kencana corak nano-nano, kedipan sein kanan dengan intensitas cepat dinyalakan sebagai sinyal minta jalan, GH.026 terus mencari posisi terbaik dan menunggu kesempatannya datang, tapi dari pergerakan Pahala mengisyaratkan kalau jalanan yang lengang malam itu adalah miliknya.

Dapur pacu Jepang unjuk gigi dihadapan pabrikan Jerman, sein Hino RK8 menyala kiri dan kanan menyesuaikan situasi, pengemudi Pahala sportif sekali menuntun jalan, bahkan sampai ada satu kejadian saat PK mendahului truk gandeng masih sempat-sempatnya menahan kendaraan dari arah lawan, sayangnya tidak direspon GH.026 untuk ikut dari belakang.

Pahala Kencana meneruskan langkah cepatnya menuju Malang, dua kendaraan besar hasil garapan satu karoseri ini akhirnya berpisah, Gunung Harta menepi didepan Alfamart daerah Probolinggo, dua penumpang turun.

Meski dinihari lalu lintas kawasan Bayeman padat merayap, yang paling kelihatan mendominasi kendaraan dari arah Timur ke Barat, lampu sein GH.026 menyala bergantiaan sambil memanfaatkan celah-celah kosong, tanpa disadari Meredes-Benz O500R mendekat ke kaumnya, aksi GH. 088 dan PO. Setiawan Hino RK8 tak kalah atraktif memanfaatkan bahu jalan, barisan truk gandeng dan kendaraan pribadi berubah menjadi separator tiga bus malam.

Setelah pergulatan panjang memaksimalkan laju ditengah padatnya jalan, Gunung Harta Scania K360 yang rajin nyundul-nyundul dari kiri ditinggalkan jelang Pasuruan, disanalah saya melihat siluet GH.088 untuk terakhir kali karena setelahnya duo kelir hijau menempuh jalan yang berbeda, PO. Setiawan tujuan Kediri dicentang memanfaatkan jalur lawan, bus kuning disebelah sebenarnya sedang mendahului barisan truk dari kiri, namun harus mengakui kalau torsinya kalah dengan pabrikan Jerman.

Jetbus SHD ambil kanan setelah Bangil, papan petunjuk arah tertulis Sidoarjo dan Surabaya, jam setengah 4 pagi GH.026 melintas di jalan Lingkar Porong, sejak dari sini banyak penumpang turun, karena ini pengalaman pertama kurang begitu paham berapa lama lagi durasi perjalanan, tapi melihat penumpang yang mulai beres-beres bisa dikatakan tidak lama lagi.

Ternyata benar.. Mas yang duduk disebelah bilang terminal sudah dekat, kita sempat ngobrol ringan sebelum perjalanan berakhir, tanyanya saya jawab dengan akan langsung melanjutkan perjalanan ke Solo.

GH.026 tiba di gerbang masuk Bungurasih kurang sedikit dari jam 04.00 pagi, mas disebelah pamit dan turun disini, tas ransel yang dibawa langsung saya sandang dan tak lama perjalanan berakhir di jalur kedatangan, setelah turun saya ngeh kalau Bungur bukan penghabisan, mayoritas penumpang kemungkinan dibawa ke kantornya didaerah kota.

Terminal Purabaya Surabaya atau lebih dikenal dengan nama Bungurasih tak seperti gambaran Terminal AKAP pada umumnya, aktivitas dan fasilitas disini 24 jam.. ibarat Bandara Internasional yang sesak dengan jam penerbangan, sebelum melanjutkan langkah ke jalur pemberangkatan bus Patas tujuan Solo-Jogja, subuh itu saya sempatkan menyantap seporsi soto ayam disalah satu depot yang harga finalnya tidak sesuai dengan judul belasan ribu rupiah.

Saat akan turun sengaja saya ucapkan dalam bahasa daerah mereka, hanya ini yang bisa mewakili rasa atas pelayanan, keramahan dan jasanya membawa saya dari Denpasar sampai ke Surabaya.

Matur Suksma Bli..

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Segunung Harta Pulau Dewata"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel