Terbang diantara COVID-19..

Lama tidak nulis malah muncul dengan topik yang melanting jauh, mungkin biar sekalian senada dengan materi video terbaru di youtube yang juga sama-sama tidak nyambung... tidak ada kait berkaitnya dengan aktivitas yang sering dilakukan bila ada waktu luang

Efek domino dari pandemi covid-19 luar biasa pengaruhnya ke berbagai sektor, saya yakin kita semua kena imbas walau mungkin dengan takaran yang berbeda, ada yang mungkin biasa saja menghadapi situasi ini tapi tidak sedikit yang sampai berpengaruh kepada priuk nasi atau kebulan asap dapur rumah orang-orang yang menggantungkan penghasilan mereka dari pendapatan harian, saya ikut berempati untuk siapa saja yang harus berjuang lebih keras terutama dibulan maret sampai mei kemarin, fase dimana aktivitas sosial dan ekonomi mau tidak mau harus dibatasi, sekarang pun tetap dibatasi juga sebenarnya tapi sudah lebih fleksibel saja.

Setelah cuti pulang kampung bulan Februari, kurang 2 minggu di Jambi dapat tugas kunjungan ke beberapa kota dengan spare waktu yang cukup singkat, sudahlah waktu mepet untuk persiapan dimana situasi juga sudah mulai tidak kondusif akibat Corona, ditambah perjalanan ini tanpa masker dan handsanitizer.. benar-benar modal pasrah karena 2 barang ini sempat jadi barang goib kemarin.

9 Maret, penerbangan pertama menggunakan Wings Air trayek Jambi - Medan.. trayek? sudah kayak bus saja.. Urusan pekerjaan di Medan hanya beberapa jam selesai.. yang buat makan waktu karena harus balik ke Kuala Namu lagi untuk ke Pekanbaru... dihari yang sama, tidak perlu dijelaskan panjang lebar bagaimana situasi kemarin, serba salah.. cari tempat duduk diruang tunggu yang berjarak dengan orang lain jelas tidak mungkin, mana bandara yang dikunjungi Internasional semua, entah dari mana-mana orang datang

Akhirnya setelah sempat acuh dengan kondisi badan.. sore itu sebelum terbang lagi saya makin yakin kalo sedang dalam kondisi sakit, idung meler, badan sumeng, tambah stress lah karena masih hari pertama sudah ketemu dengan kondisi yang model begini.

Sampe Pekanbaru jam 9 malam, masuk hotel gak pake mandi lanjut keluar cari makan, balik hotel bersih-bersih langsung tepar, sebelum subuh datang terbangun karena badan terasa makin panas, suhu kamar mau diatur gimana juga tetap gak ketemu yang pas, langsung guyur tenggorokan dengan sekaleng susu beruang, sampe hari terang gak tidur lagi. 

Masih jam 10 pagi urusan beres dan lanjut bandara lagi buat ke Medan, iya ke Medan lagi.. putar kepala, terbangnya menjelang sore jadi aktivitas lebih banyak duduk-duduk diruang tunggu.. ada lah diselingi dengan ngisi perut di Solaria yang bersebelahan dengan pintu kedatangan Internasional Sultan Syarif Kasim II, sampe Kuala Namu gak bisa langsung jalan karena ngikutin jadual kereta bandara arah Medan.

Disini yang paling epik, okelah masuk hotel pas maghrib tapi checkout-nya yang tidak biasa, mana hari itu demam makin jadi yang artinya aktivitas di Medan betul-betul hanya numpang tidur, singkatnya jam 3 pagi beres-beres lanjut mandi persiapan ke Kuala Namu lagi untuk terbang ke kota selanjutnya... sudah kayak anak orkes, pindah titik lokasi.

Citilink trip pagi dari Jakarta tujuan Banda Aceh transit di Medan, dia yang membawa saya ke serambi Mekkah, puncak sakit saya pecah disini, sekian menit take-off telinga kiri mulai budeg rasanya seperti udara terperangkap, sakitnya minta ampun.. kondisi seperti ini akibat perubahan tekanan udara, sebenarnya hal lumrah dipenerbangan tapi karena badan kurang fit jadi beda ceritanya.. nahan lah pokoknya, coba mangap buka-rahang lebar-lebar tapi tidak ada perubahan.

Turun di Sultan Iskandar Muda telinga lumayan mendingan, masih dipesawat juga sudah terasa pas mulai turun.. pelan-pelan hilang budegnya tapi ngilu-nya masih tinggal, cukup menusuk.

Mendung pagi di Banda Aceh jadi latar menyelesaikan tugas di etape pertama, penerbangan ke Jakarta dijadualkan sebelum jam 4 sore.. lumayan masih sekian jam kedepan, waktu kosong dibuat keliling-keliling singkat ke museum tsunami dan pas gerak ke bandara lewat didepan garasi Sempati Star, sempat ketemu sama Jetbus Coaster-nya di SPBU.

Trauma di Citilink tadi masih tinggal, belum lagi penerbangan berikutnya jauh lebih lama... Banda Aceh - Jakarta, karena pertama kalinya terbang dari Aceh jadi belum punya pengalaman tentang ini, tapi kalo lihat flight radar dan cerita kawan-kawan.. bisa sekitar 3 jam diatas.. beh siap-siap bengep ni kuping

Ternyata betul setelah take-off 15:40 baru sekian menit diatas kuping mulai budeg lagi, rasa sakitnya makin lengkap karena penumpang yang duduk disebelah batuk terus, bapak ini punya masker cuma gak dipake.. pasrah lah bisanya, penumpang lain juga cuek saja.. satu yang kepikiran waktu itu.. cepat-cepat disajikan makan supaya kondisi fisik bisa sedikit tertolong.

Sambil ngopi-ngopi diudara badan pesawat naik turun akibat turbulensi, penasaran cek lokasi dari map yang ada di screen Garuda, koordinat saat itu persis diatas Danau Toba tarikannya menuju Siborong-borong, disini bapak pilot minta pramugari buat balik ke posisi duduk, satu yang jadi fokus saya karena mbaknya masih dorong trolley.. kondisi krusial ini, karena pernah lihat di youtube ada pesawat kena turbulensi pas sesi makan minum isi trolleynya kemana-mana.. pikiran saya paling jelek waktu itu kesiram air panas atau gak kena timpa gerobak makanan ini.. wew.

Setelah terbang 2 jam lebih ketinggian pesawat mulai turun, kondisi diluar sudah gelap, pendar cahaya bergantian dari layar-layar monitor yang dipasang ditempat duduk, walau tanpa headphone saya tetap memutar 1 film yang entah sudah berapa kali ditonton.. Ocean Eleven.

Jangan ditanya sakitnya seperti apa, karena makin kesini bukan hanya telinga yang bermasalah tapi kepala rasanya seperti mau pecah, entah migrain atau bukan tapi ini pertama kalinya merasakan sensasi sakit kepala sebelah yang kurang ajar levelnya.

Sekitar jam 8 malam saya sudah berjalan dikarpet panjang yang dibentang sepanjang ruang kedatangan terminal 3 Soekarno-Hatta, sakit kepala tadi ternyata permanen dengan situasi sedikit lebih mendingan ketimbang diatas, tidak hanya itu telinga kiri juga resmi budeg dengan efek ada dengung-dengungnya.

Etape pertama sudah selesai.. Medan - Pekanbaru - Banda Aceh, sekarang sesi untuk etape kedua dan harus beberapa hari di Ibu Kota Negara, masih tentang pekerjaan tapi beda topik.

Ratusan manusia berserakan diluar areal Terminal 3, karena kurang suka dengan keramaian disana dan juga hari itu tanggal 11 Maret 2020 dimana WHO menyatakan COVID-19 sebagai pandemi global, saya langsung geser naik skytrain menuju lokasi tunggu bus Damri yang paling kondusif.. Terminal 1.

Manusia disini sebenarnya jauh lebih banyak, belum lagi antrian Damri sekarang sudah proses mandiri di counter, biar kata begitu tapi lebih mendingan daripada naik di Terminal 3 dengan alasan disini bisa milih tempat duduk karena busnya duluan kesini.

Tujuan seharusnya ke Mangga Dua cuma saya belokin ke Gambir karena nunggu Damri ke Mangga Dua waktunya tidak bisa diprediksi ditambah sudah malam juga, enaknya Gambir bisnya ada terus dan rata-rata armadanya unit baru pake Mercedes 1626 bodi Morodadi.

Dengan pilek yang makin jadi sudah begitu tanpa tissue atau sapu tangan, saya usap-usaplah hidung ke kerah baju bagian dalam, betul memang.. tidak higienis tapi ya mau gimana lagi, kalo tidak dibuat begitu makin meler yang ada.

Masuk Gambir langsung order taksi online buat ke Mangga Dua, hampir jam 10 malam  juga sampe di lokasi.. benar-benar hari yang panjang dan melelahkan karena sudah jalan dari subuh dan harus berada di 3 kota berbeda dihari yang sama, tidur di Medan.. kerja di Banda Aceh dan sorenya harus ke Jakarta.

Rengko.. kalo orang Jambi bilang.

Demam menuju puncak akan ada postingan berikutnya
Terimakasih

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Terbang diantara COVID-19.."

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel