Kuliah Pandemi

Kuliah Pandemi

Mulai awal 2020 hingga tulisan ini dibuat (Juni 2021) kita berhadapan dengan situasi yang penuh dengan ketidakpastian, perubahan cepat standart baku dalam menyimpulkan sesuatu atau hanya mengikuti sesuatu dengan berdasar riset menjadi tolok ukur yang sahih saat ini, nah yang jadi permasalahan adalah.. ketika dua sumber data atau lebih dengan muatan yang berbeda digunakan sebagai dasar dalam pembahasan sesuatu, tentu keluarannya akan berbeda pula dan berujung mispersepsi, hal ini bisa kita lihat bersama bagaimana orang-orang sering kali berbeda dalam menerima, menerjemahkan dan berpendapat terkait hasil penelitian terkait virus SARS COV-2 yang penyebarannya sudah merata diseluruh negara, hampir setiap hari ada jurnal baru yang membahas hal tersebut, sehingga peluang untuk mendapatkan informasi berbeda terbuka lebar.


Grafik perjalanan penanggulangan pandemi terbaca naik turun, salah satu faktor penyebabnya juga berangkat dari beda pandangan akibat dari pembaharuan informasi yang begitu cepat, bisa jadi masyarakat sudah penat dengan situasi demikian, kebingungan sendiri dalam mencari dan menerima konsumsi informasi terkait standart siapa yang paling valid dalam menghadapi paradigma dilapangan yang akhirnya berdampak kepada penerapan pembatasan aktivitas pada masyarakat, ini bukan cerita membahas tentang kesiapan sebuah negara atau sebuah sistem pemerintahan, tapi lebih menceritakan tentang bagaimana kita sebagai manusia atau mahluk hidup memang kelabakan menghadapi situasi ini.


Penyesuaian-penyesuaian di masa pandemi sangat berdampak pada aktivitas dan rutinitas sehari-hari, semua bermuara kepada pembatasan interaksi antar manusia terlebih untuk kegiatan yang dilaksanakan secara tatap muka, kita tidak dapat memungkiri bahwasanya manusia adalah mahluk sosial yang pasti akan bersinggungan dengan yang namanya interaksi, sangat mustahil rasanya hal tersebut diabsenkan sekalipun dalam kondisi genting.


Saya akan acung jempol jika ada yang bisa menyebutkan satu saja sektor vital yang tidak terdampak oleh Covid-19, rasanya cukup mustahil untuk menemukan.. mulai dari ekonomi, sosial, politik, kesehatan bahkan sampai dengan pendidikan harus menelan pil pahit yang belum tentu dapat menjadi obat dalam menghadapi situasi saat ini.


Pendidikan adalah salah satu lini yang mendapatkan hantaman cukup keras akibat pandemi ini, kegiatan belajar mengajar mau tidak mau dilaksanakan online, anak-anak baik yang masih TK dan sekolah dasar yang dahulu awam dengan yang namanya internet apalagi webcam.. saat ini hal-hal tersebut bukan sesuatu yang wah atau asing lagi bagi mereka, bahkan para orang tua yang awalnya gagap dengan teknologi mau tidak mau, suka tidak suka.. belajar menyesuikan diri dengan cepat agar anak-anak tetap dapat mengikuti pelajaran tatap muka dengan guru meski harus dilaksanakan secara virtual, tapi ini masih mending menurut saya.. disisi lain berapa banyak pusat aktivitas belajar mengajar yang gulung tikar, sebut saja seperti pusat bimbingan belajar yang entah bagaimana nasib karyawan dan pemiliknya. 


Tanpa mengurangi rasa empati kepada siapa saja yang harus berjuang lebih keras lagi dalam menghadapi situasi saat ini, ditengah musibah seringkali terselip juga anugerah dari Yang Maha Kuasa, satu harapan saya yang lama menggelayut dalam angan akhirnya terkabul ditengah pandemi, ditengah kebahagiaan yang datang seketika itu pula harus berhadapan dengan pilihan apakah kesempatan diambil atau dibiarkan lewat saja sambil menunggu situasi kembali kondusif.. tapi siapa kira-kira orang yang bisa memberikan jawaban pasti kapan situasi ini sampai dititik ujung?


Setelah menimbang, minta pendapat kiri kanan, hitungan sekian hari akhirnya mantap untuk melanjutkan satu pijakan langkah dari tahapan panjang yang sudah dilalui sejak akhir 2020, mungkin ini memang rezeki yang sayang untuk dilewatkan dan dilain sisi bodoh rasanya jika berpaling begitu saja, sementara diluar sana banyak orang berlomba-lomba untuk mendapatkannya.


Lewat pergulatan panjang mengaktualisasikan diri dan dari waktu isitirahat yang  tersita demi belajar sampai larut, apa yang saya cita-citakan tercapai... lolos seleksi beasiswa Kementerian.


Tak ada maksud mengobral pencapaian, karena sejatinya pendidikan adalah salah satu kebutuhan menurut versi saya dan seperti judul postingan ini..  kemungkinan besar perkuliahan akan dilaksanakan secara online atau dengan kata lain "Kuliah  Pandemi", solusi terbaik sejauh ini demi berkompromi dengan situasi.


Pada tulisan yang lain saya akan berbagi langkah bagaimana tahapan dan perjuangan untuk bisa mendapatkan studi dengan skema pembiayaan penuh dari Kementerian.